depan

S E L A M A T D A T A N G
KANA'AMPE TALA..!
Web masih dalam proses berbenah
Berikan saran dan kritik anda
Untuk Wawonii kita ke-depan...
SEMOGA BERMANFAAT
Kami menerima masukkan kawan-kawan semua untuk memberikan kontribusi pemikiran terkait WAWONII DAN PERMASALAHANNYA. Kirimkan Tulisan/opini anda via email ke: komnasdesa@gmail.com, Pemikiran kawans akan kami muat pada web kita ini..

Update Banjir Bandang Wasior, Papua Barat

Kota Wasior hancur. Untuk sementara 90 korban meninggal, 837 luka parah, 216 jiwa mengungsi ke Manokwari. Jumlah korban masih akan terus bertambah. Sementara sejak tadi malam hingga hari ini, 7 Oktober 2010, hujan deras disertai angin kencang masih terus mengguyur seluruh wilayah Papua Barat. Bantuan anda sangat dibutuhkan. Siapa dapat meyangka kalau akan terjadi bencana alam yang mengerikan dalam hidup ini? Hari-hari hidup kita penuh dengan kebahagiaan dalam mengarungi hidup ini. Setiap insan punya mimpi untuk hidup bahagia. Setiap rencana dirancang sesuai keinginan dan kebutuhan untuk mencapai kesuksesan hidup. Tidak pernah seorang manusia membayangkan kalau akan mengalami bencana fatal dalam hidupnya. Itulah sebuah pengalaman dari kaum korban banjir bandang di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat. Tanggal 4 Oktober 2010, pagi hari itu penduduk kota Wasior dikejutkan oleh banjir yang mengahancurkan dan melumpuhkan seluruh aktivitas di kawasan Teluk Cenderawasih ini. Bencana ini memang banjir, tetapi menyerupai tzunami. Kota Wasior dihancurkan oleh banjir yang berasal dari gunung. Kabarnya, diatas gunung, ada telaga besar juga yang menjadi hulu sungai Angris dan sungai Akiot serta 2 anak sungai lagi. Telaga ini pecah sehingga volume air menjadi tinggi dan deras arusnya ke arah muara yang kebetulan secara alami muara kedua sungai ini mengapit kota Wasior. Muara sungai malah persis di dermaga pelabuhan wasior. Kota ini berubah seketika menjadi Kota Mati. Sejak tanggal 4 Oktober hingga pagi hari ini, 7 Oktober 2010, jumlah korban bencana sudah semakin meningkat dan menakutkan. Korban meninggal sudah mencapai 88 jiwa, korban luka-luka mencapai 837 jiwa. Sejak tanggal 5 Oktober sudah sebanyak 72 korban luka berat yang dievakuasi ke Nabire dan Manokwari. Kabar dari Nabire, 2 orang korban sudah meninggal pula, tadi malam. Berarti korban banjir yang meninggal sudah mencapai 90 orang. Korban hilang yang belum ditemukan sekitar 66 orang bahkan kemungkinan lebih dari itu. Berbagai upaya pencarian korban masih terus berlanjut. Sementara hingga saat ini masih ada lima (5) lokasi di sekitar hilir hingga hulu sungai belum bisa dijangkau, karena sangat jauh di atas gunung-gunung. Sementara lumpur dan tumpukan bebatuan, kayu dan sebagainya belum diganggu oleh tim SAR, karena tidak ada alat berat. Diduga banyak korban tertimbun di lumpur dan juga hanyut ke laut. Upaya pencarian korban masih terus berlanjut. Alkisah, pagi itu terdengar suara gemuruh bersama datangnya banjir bandang luapan air sungai yang membelah kota Wasior, ibu kota Kabupaten Teluk Wondama. Sejak hari minggu sampai senin dini hari itu, hujan deras terus mengguyur lembah Gunung Wondiboy ini. Sungai yang berhulu di Pegunungan Wondiboy tersebut meluap. Selain air dan lumpur, banjir bandang membawa serta bebatuan dan batang-batang kayu berikut akarnya. Akibatnya, rumah-rumah warga di tepi kiri kanan sungai hancur tersapu air. Seluruh kota hingga kampung-kampung di sekitarnya, semua terbenam dan terseret banjir ke arah pantai lautan Teluk Cenderawasih tersebut. Warga yang sudah ke luar rumah bergegas menyelamatkan diri ke perbukitan atau daerah yang lebih tinggi. Sementara warga yang masih di dalam rumah tidak semua bisa menyelamatkan diri. Rumah warga yang umumnya semipermanen dari bahan kayu tergerus dan runtuh. Itulah yang menyebabkan jatuh banyak korban jiwa. Masih banyak yang belum ditemukan. Informasi dari posko satkorlak provinsi Papua Barat menyebutkan korban tewas ada tiga anggota polisi dan seorang dokter yang bernama Since Homedong. Banyak korban meninggal juga belum teridentifikasi identitas dirinya, karena sudah berapa hari tertimbun dalam lumpur. Ratusan warga yang selamat ataupun luka-luka mengungsi ke sejumlah ruangan di kantor bupati yang terletak di daerah perbukitan. Sebagian korban berbaring di teras kantor tersebut. Sesekali mereka mengerang kesakitan karena luka yang diderita akibat terhantam puing-puing rumah yang terseret banjir. Para korban banjir yang menderita kesakitan tersebut pada umumnya belum mendapatkan perawatan medis. Kemarin, 6 Oktober 2010, sekitar pkl. 12.15 WIT, sebanyak 216 jiwa dari sekitar 4.000-an jiwa penduduk kota Wasior yang selamat dari banjir itu tiba di Manokwari dengan menumpangi kapal Gracelia. Mereka terpaksa memilih mengungsi ke Manokwari. Setibanya di Manokwari, ke-216 jiwa ini diarahkan ke lapangan Korem/Kodim Manokwari. Tim Kemanusiaa dari Komunitas Peduli Bencana Papua Barat yang semula dikoordinir JASOIL Tanah Papua langsung bergegas menyambut dan menangani para korban yang mengungsi di Manokwari. Sayangnya kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah Papua Barat ternyata tidak siap menangani masalah pengungsi akibat bencana ini. Sampai sore hari, para pengungsi itu tidak mendapatkan layanan medis maupun makanan. Tidak ada dapur umum yang seharusnya disiapkan terlebih dahulu untuk mengantisipasi, kalau nanti ada yang mengungsi keluar dari Wasior. Relawan dari kalangan LSM yang berusaha dengan cara door to door mencari makanan dan pakaian seadanya bagi pengungsi. Diantara pengungsi itu ada seorang bayi berusia lima (5) hari, artinya baru lahir persis pada malam sebelum peristiwa naas itu terjadi. Badan bayi yang masih merah itu hanya terbungkus pakaian dan kain seadanya, sedangkan ibunya juga masih membutuhkan pertolongan medis. Sayangnya, dari siang hari tiba dengan kapal, tidak ada perhatian medis. Sore hari, agak gelap, pihak TNI-Yonif 752 Arfai membawa bantuan pakaian dan sembako sejumlah truck. Sayangnya, pengungsi belum diberdayakan untuk bisa menolong diri mereka sendiri di tempat pengungsian, misalnya untuk memasak, karena memang belum ada dapur umum. Dari pantauan JASOIL, kondisi umum kota Wasior sudah dihancurkan oleh banjir bandang yang mirip tsunami ini. PLN juga dalam kondisi tidak bisa terpakai lagi, sehingga suasana gelap gulita di malam hari. Instalasi listrik kota juga rusak parah dan aliran listrik terputus total. Jembatan-jembatan dan jalan raya juga tidak bisa dilewati kendaraan karena di beberapa titik terdapat timbunan bebatuan dan lumpur setinggi pinggang orang dewasa. Jaringan komunikasi juga terputus. Dermaga pelabuhan wasior dan juga landasan pesawat, bandara wasior juga tidak dapat berfungsi lagi. Semua lumpuh. Sementara tidak ada jalan darat dari Manokwari, ibu kota Provinsi Papua Barat ke Wasior, Kabupaten Teluk Wondama. Penanggulangan bencana banjir bandang Wasior dikendalikan langsung oleh Pemerintah Provinsi Papua Barat. Pasalnya, aparatur Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama dinilai tidak tanggap dalam penanganan korban banjir yang menghancurkan seluruh infrastruktur umum dan perumahan masyarakat di wasior ini. Bupati dan para kepala dinas di Pemkab Teluk Wondama pada saat terjadinya banjir bandang tidak berada di tempat. Para pejabat pemerintah daerah bernasib naas ini, saat kejadian semuanya masih berkonsentrasi di luar Wasior dalam rangka urusan sengketa politik hasil pemilihan umum kepala daerah (Pemilu Kada) di Mahkamah Konstitusi. Syukur ada kepala dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Teluk Wondama yang saat itu berada di tempat sehingga bisa bertindak untuk mengatur koordinasi penanganan korban bencana tersebut. Sedangkan Bupati Wondama, Alberth Torey bersama semua kepala dinasnya dan staf-staf lain yang berhubungan langsung dengan urusan politik itu baru tiba pada pagi hari kedua pasca bencana. Atas perintah Gubernur Provinsi Papua Barat, Abraham O. Ataruri yang mengunjungi korban bencana di Wasior, kepala dinas PU Wasior mengambil alih semua kendali komando penanganan korban bencana. Bencana banjir yang menyerupai tsunami ini mengakibatkan aktivitas pelayanan pemerintahan dan perekonomian menjadi lumpuh total. Ribuan warga yang selamat dari musibah banjir kini ditampung di lima tempat. Di antaranya, ruang Bandar Udara Wargono Wasior, masjid Al Falah Wasior, Kantor Bupati (lama), SMP YPK Wasior, dan sejumlah permukiman warga yang berada di dataran tinggi. Jumlah korban dimungkinkan akan terus bertambah akibat banjir bandang tersebut karena 50-an rumah hanyut terbawa arus banjir ke laut. Rumah Sakit rusak parah, bangunan SD, SMA, masjid, hotel dan jembatan juga rusak. Jumlah korban bisa saja bertambah karena sebagian terseret air sampai ke laut. Ribuan orang yang mengungsi akibat banjir ini, tetapi sampai sekarang jumlahnya belum diketahui karena masih dilakukan pendataan. Sementara lokasi-lokasi yang berada di luar kota Wasior belum bisa dijangkau. Belum ada laporan dari masyarakat pemukim yang berada di daerah-daerah sulit tersebut. Masih ada 3 wilayah distrik yang belum diketahui informasinya. Sangat dibutuhkan tenda-tenda, pakaian, sembako, alat-alat masak, air bersih/mineral, obat-obatan,sarana penerangan,sarana komunikasi dan tenaga medis. Kabar dari Wasior, sudah ada bantuan darurat berupa beras dan supermie, tetapi tidak ada alat masak dan air bersih, sehingga warga korban yang di pengungsian kelaparan. Hujan deras dan angin kencang pun masih terus berlanjut, sehingga air kembali naik setinggi lutut orang dewasa. Korban-korban yang memilih mengungsi ke Manokwari, terdorong oleh ketakutan akan kondisi alam di sana, mereka tidak sanggup bertahan hidup di Wasior. Apalagi banjir masih bisa terulang, karena hujan masih terus terjadi di daerah pegunungan Wondiboy, dimana letak kepala air dan telaga. Kota Wasior seharusnya dikosongkan untuk sementara waktu hingga kondisi alam menjadi normal. Pemerintah Indonesia seharusnya segera melakukan upaya evakuasi penduduk ke lokasi-lokasi yang agak tinggi, disertai layanan yang maksimal untuk 2 sampai 3 bulan ke depan. Karena sampai dengan saat ini belum ada alat berat untuk membersihkan kota, sementara hujan dan banjir pasti masih terus berlanjut. Butuh waktu lama untuk membangun kembali Wasior. Selain itu, pasca bencana ini pasti banyak penyakit ikutannya yang bermunculan seperti ISPA, diare, malaria. Tenaga medis, peralatan medis dan obat-obatan sangat dibutuhkan. Bantuan tanggap darurat bagi korban bencana sangat mendesak. Masalahnya, kesulitan transportasi laut dari arah Manokwari dan Nabire. Bandara Wasior belum bisa difungsikan, karena lumpur dan bebatuan. Penduduk Wasior seakan terjebak di sana. Singkatnya, warga Wasior di Teluk Wondama, Tanah Papua sangat membutuhkan uluran tangan anda. Semoga Tuhan membalas baik budi anda yang sudah dan akan membantu korban bencana di Wasior.***Oleh Pietsau Amafnini*** #

No comments:

Post a Comment