depan

S E L A M A T D A T A N G
KANA'AMPE TALA..!
Web masih dalam proses berbenah
Berikan saran dan kritik anda
Untuk Wawonii kita ke-depan...
SEMOGA BERMANFAAT
Kami menerima masukkan kawan-kawan semua untuk memberikan kontribusi pemikiran terkait WAWONII DAN PERMASALAHANNYA. Kirimkan Tulisan/opini anda via email ke: komnasdesa@gmail.com, Pemikiran kawans akan kami muat pada web kita ini..

Petani dan Nelayan Terpinngirkan

AKSES RAKYAT Petani dan Nelayan Terpinggirkan Jakarta, Kompas - Serikat Petani Indonesia menyatakan sedikitnya ada 23 undang-undang yang justru meminggirkan petani dan nelayan. Hal itu disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Serikat Petani Indonesia Henry Saragih dalam peluncuran buku Meruntuhkan Tembok Imperialisme: Bunga Rampai Penolakan Undang-Undang Penanaman Modal di Jakarta, Senin (5/7). ”Pada masa Orde Baru, pemodal meminggirkan petani dan nelayan dengan kekerasan. Kepentingan para pemodal didukung aparat keamanan. Pada masa Reformasi, kepentingan para pemodal memasuki proses penyusunan undang-undang, menghasilkan undang-undang yang meminggirkan petani dan nelayan, misalnya Undang-Undang Peternakan, Sumber Daya Air, dan sejumlah undang-undang lainnya,” kata Saragih. Ia mencontohkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 (UU No 25/2007) tentang Penanaman Modal. UU itu memperpanjang masa hak guna usaha bagi penanam modal dari 25 tahun menjadi 95 tahun. ”Itu memperlama hilangnya kontrol negara atas tanah yang dikuasai penanam modal. Sebaliknya, petani rata-rata hanya memiliki 0,5 hektar lahan, dan 17 juta lebih petani hanya menjadi penggarap,” kata Saragih. Gerakan Rakyat Melawan Neo Kolonialisme dan Imperialisme mencatat hingga 2005 sejumlah 70 persen petani menggarap hanya 13 persen lahan, sementara 87 persen sisa lahan dikuasai oleh hanya 30 persen petani besar dan industri pertanian. ”Hanya karena rakyat melawan dengan mengajukan permohonan uji materi, perpanjangan masa hak guna usaha, hak guna bangunan, dan hak pakai dalam UU No 25/2007 telah dibatalkan Mahkamah Konstitusi,” katanya. Sedang uji materi Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) M Riza Damanik, yang menghadiri peluncuran buku itu, menjelaskan, Kiara tengah menjalani persidangan Mahkamah Konstitusi atas permohonan uji materi mereka terhadap UU No 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. ”UU No 27/2007 menghilangkan proteksi bagi nelayan. Wilayah laut dikapling-kapling dan nelayan bisa memohon konsesi atas kapling itu. Masalahnya, mengapa nelayan harus berkompetisi dengan pemodal untuk memperoleh akses terhadap laut? UU memberikan akses bagi pemodal terhadap laut, tetapi justru menghilangkan akses nelayan terhadap laut. Padahal, rakyat harus mendapatkan manfaat dari sumber daya alam di sekitarnya,” kata Damanik. (ROW) Sumber: http://koran. kompas.com/ read/xml/ 2010/07/06/ 04334295/ petani.dan. nelayan.terpingg irkan ------------ --------- ------- Keanekaragaman budaya Indonesia dari satu sisi adalah kekayaan, tetapi dari sisi lain adalah kerawanan. Sebagai kekayaan, keanekaragaman budaya dapat menjadi sumber pengembangan budaya hibrida yang kaya dan tangguh, melalui penyuburan silang budaya. Sebagai kerawanan, keanekaragaman budaya melemahkan kohesi antar suku dan pulau. Berbagi informasi adalah hal terpenting dalam bermasyarakat. Terlebih bagi nelayan tradisional dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dan masyarakat luas yang tinggal di belahan bumi lainnya. Kunjungi situs web KIARA di http://www.kiara. or.id. Pastikan Anda adalah orang yang pertama kali mengetahui perkembangan informasi kelautan dan perikanan nasional. #

No comments:

Post a Comment